Pelaku Usaha Sektor Penerbangan Ungkap Tiga Tantangan pada Masa Pemulihan

Diposting pada

suarasragen.com

Bisnis penerbangan nasional mulai mengalami pemulihan pasca krisis akibat pandemi Covid-19. Data dari Ditjen Perhubungan Udara menyatakan bahwa lalu lintas penumpang domestik pada tahun 2022 mencapai 56,4 jt dengan rate recovery mencapai 71% jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Sedang penumpang internasional tahun 2022 berjumlah 12,6 jt dengan rate recovery 34%. Untuk lalu lintas kargo domestik pada tahun 2022 mencapai 436.821 ton dengan rate recovery 76% berbeda dengan tahun 2019, kemudian kargo internasional tahun 2022 berjumlah 328.698 ton atau rate recovery 64%.

Meski demikian, masih ada tantangan yang tersebut dihadapi industri penerbangan yang dimaksud harus disikapi para pelaku usaha.

“Setidaknya ada tiga tantangan yang mana saat ini dihadapi kemudian perlu mendapat perhatian kritis oleh stakeholder industri penerbangan nasional, baik operator lalu regulator. Pertama terkait sistem importasi suku cadang (spareparts) pesawat, kedua harga jual substansi bakar avtur yang cenderung naik, juga ketiga perbaikan tarif penerbangan,” ujar Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja di area Jakarta yang dimaksud dikutip, Jumat (3/11/2023).

Menurut Denon, jumlah agregat permintaan jasa penerbangan saat ini cenderung naik, tetapi jumlah keseluruhan pesawat yang mana beroperasi justru turun. Hal ini salah satunya lantaran proses importasi spareparts pesawat yang dimaksud membutuhkan waktu lama juga biaya yang bukan sedikit. Akibatnya banyak pesawat yang dimaksud perlu waktu lama dirawat pada MRO juga tak bisa saja segera dioperasikan.

Selain itu, biaya avtur yang cenderung naik lantaran kondisi sosial urusan politik global seperti perang Rusia-Ukraina serta perang Israel-Palestina juga mempengaruhi biaya operasional penerbangan. Biaya avtur mencapai 36% dari total biaya operasi penerbangan (total operating cost/ TOC) sehingga naik turunnya biaya avtur berpengaruh pada total TOC.

Terkait komponen bakar pesawat, selain memperbaiki tarif avtur, juga perlu dipikirkan mengenai pengaplikasian komponen bakar berkelanjutan (sustainable aviation fuel/ SAF) di tempat operasional pesawat.

Sedangkan perbaikan tarif penerbangan perlu segera diimplementasikan oleh sebab itu tarif yang digunakan berlaku sekarang ditetapkan pemerintah pada tahun 2019, dalam mana kondisi saat itu sudah berbeda dengan saat ini terutama dari sisi tarif avtur lalu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

“Selama tahun 2023 INACA sudah melakukan advokasi kemudian kegiatan lain untuk turut menyelesaikan tantangan hal itu dalam rangka mempercepat momentum pemulihan industri penerbangan nasional. Kami telah terjadi bekerjasama dengan stakeholder lain baik pada dalam maupun luar negeri seperti Kementerian Koordinator Maritim lalu Investasi, Kementerian Perhubungan, lalu kementerian lain, juga pabrikan pesawat Boeing, Airbus, Embraer, Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (IATA) juga yang mana lainnya,” kata Denon.

INACA berharap pemulihan usaha penerbangan nasional dapat dipercepatkan dengan meningkatkan kerjasama yang tersebut erat antar stakeholder untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang mana saat ini sedang dihadapi.

SUMBER SUARA.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *